ontasuga
PADMARINI: Diantara Rumah dan Kebebasan
Mulai membaca
Kafe itu tutup pukul sepuluh malam.
Ayu baru menyadarinya ketika pegawai di balik meja kasir mulai mengangkat kursi-kursi kosong dan mematikan sebagian lampu. Sejak tadi ia duduk sambil mengaduk es batu yang sudah mencair, berusaha terlihat seperti seseorang yang memang punya tujuan setelah meninggalkan tempat itu. Padahal, satu-satunya tujuan yang ia punya adalah tidak pulang.
Jam di ponselnya menunjukkan 21.47. Baterainya tinggal dua belas persen. Uang tunai di dompet: dua ratus enam puluh tujuh ribu rupiah. Saldo rekening: entah. Ia belum berani membuka aplikasi bank sejak keluar rumah. Rasanya seperti menunda vonis.
Elden menutup laptop di hadapannya.
"Kamu sudah menghubungi siapa?" tanyanya.
Ayu menatapnya. "Siapa?"
"Orang yang akan kamu datangi malam ini."
"Oh." Ayu kembali mengaduk gelas kosong. "Belum."
"Hotel?"
"Mahal."
"Teman?"
"Gak ada yang bisa dititipin."
"Keluarga?"
Ayu mengangkat kepala. "Kak, kalau gue mau pulang ke keluarga, dari tadi gue sudah pulang."
Elden menerima jawaban itu tanpa membalas. Ia tidak tampak tersinggung. Hanya menatap meja, lalu pada ransel Ayu yang tergeletak di bawah kursi. Ransel itu terlihat terlalu tipis untuk membawa kehidupan baru, tetapi terlalu penuh untuk disebut sekadar tas.
"Kamu bisa menginap di tempat saya," katanya.
Ayu langsung menegakkan badan. "Hah?"
"Tidak. Maksud saya—bukan di tempat saya." Elden mengusap kening. "Saya mengenal pemilik rumah kos. Namanya Bu Euis. Kosnya di Ciumbuleuit. Aman, ada penghuni perempuan lain, dan saya bisa menghubungi beliau malam ini."
"Terus gue tinggal di sana gratis karena kenal sama Kakak?"
"Tidak. Saya hanya menghubungkan kalian. Kamu tetap membayar sendiri."
Jawaban itu membuat Ayu kehilangan bahan untuk menyerang. Ia sudah menyiapkan banyak kemungkinan dari orang seperti Elden. Menawarkan uang. Menyuruhnya pulang. Menganggapnya anak kecil. Atau, yang paling menyebalkan, bertingkah sebagai pahlawan karena punya akses ke tempat yang tidak bisa ia temukan sendiri. Namun Elden justru memberi bantuan seperti orang menyerahkan nomor telepon: berguna, terbatas, dan tidak perlu dibungkus rasa kasihan.
"Kosnya mahal?" tanya Ayu.
"Saya tidak tahu harga terbarunya."
"Kakak kenal Bu Euis tapi gak tahu harga kosnya?"
"Saya mengenal beliau karena keluarga saya pernah membantu memperbaiki saluran air di rumahnya. Itu terjadi beberapa tahun lalu. Saya tidak mengurus keuangannya."
"Berarti kenal juga enggak, dong."
"Itu kesimpulan yang tidak sepenuhnya akurat."
Ayu hampir tertawa, tetapi menahannya karena tidak mau memberi Elden kemenangan.
Di luar kafe, kendaraan melintas dalam garis-garis cahaya. Udara malam Dago mulai turun dingin, dan Ayu tiba-tiba merasakan telapak tangannya berkeringat. Selama beberapa jam terakhir, ia sibuk marah agar tidak perlu memikirkan hal yang paling sederhana dan paling menakutkan: malam ini ia tidur di mana?
Elden mengeluarkan ponsel.
"Saya akan mengirim pesan dulu. Kalau beliau masih bangun, kamu bisa bicara langsung."
"Jangan."
Jemari Elden berhenti di atas layar.
"Kenapa?"
"Gue belum bilang iya."
"Saya juga belum mengatakan kamu harus iya."
"Tapi kalau Kakak menghubungi, semuanya jadi terasa seperti keputusan yang sudah dibuat."
Elden memandangnya beberapa detik. "Baik. Saya tunggu."
Ia menaruh ponselnya di meja.
Ayu membenci cara Elden melakukan itu. Tidak mendesak. Tidak menghela napas. Tidak memasang wajah kecewa. Seolah-olah ia benar-benar bisa menunggu, sementara hidup Ayu tidak bisa.
"Kalau gue nolak, Kakak bakal bilang gue keras kepala?"
"Kamu memang keras kepala. Tapi saya tidak akan mengatakan itu hanya karena kamu menolak bantuan."
"Bedanya apa?"
"Menolak bantuan dan mengambil keputusan buruk bukan hal yang sama. Namun, keduanya juga bisa terjadi bersamaan."
Ayu memelototinya. "Kakak kalau ngomong selalu kayak buku petunjuk, ya?"
"Saya sedang berusaha tidak salah bicara."
"Gagal."
"Baik."
Jawaban singkat itu membuat Ayu semakin kesal, meskipun ia tidak tahu kepada siapa.
Mereka keluar dari kafe setelah pegawai terakhir mengunci pintu. Bandung menyambut mereka dengan angin yang menusuk lengan dan bau aspal yang menyimpan sisa hujan sore. Elden berjalan di samping Ayu, tetapi tidak terlalu dekat. Ia menunjuk halte di seberang jalan.
"Kita bisa naik kendaraan dari sana ke arah Ciumbuleuit. Saya antar sampai kos, lalu pulang."
"Gue bisa pergi sendiri."
"Saya tahu."
"Terus kenapa masih ikut?"
"Karena ini sudah malam dan kamu belum punya tempat tujuan. Mengantar bukan berarti mengawasi."
Ayu ingin membantah, tetapi jalan di depannya menurun tajam dan trotoarnya sempit. Ia akhirnya menyeberang tanpa berkata apa-apa.
Di halte, Ayu membuka dompet. Ia menghitung uangnya sekali, lalu dua kali. Tiga lembar lima puluh ribu, enam lembar dua puluh ribu, beberapa uang kecil. Jumlahnya tetap sama, tentu saja. Namun, menghitung membuatnya merasa masih memegang kendali.
Elden melihat sekilas, lalu memalingkan wajah.
"Jangan lihat-lihat."
"Saya tidak sedang melihat."
"Tadi lihat."
"Saya melihat kamu menghitung uang. Itu berbeda dengan melihat jumlahnya."
"Tetap aja kepo."
"Kalau saya ingin tahu, saya bisa bertanya."
"Nah, itu lebih parah."
Kali ini Elden benar-benar tersenyum kecil.
Perjalanan menuju Ciumbuleuit berlangsung tanpa banyak percakapan. Ayu duduk dekat jendela, memeluk ranselnya, sementara Elden beberapa kali memeriksa alamat di ponsel. Jalan yang menanjak membuat lampu-lampu rumah tampak bertumpuk di antara pepohonan. Bandung dari dalam kendaraan terlihat seperti kota yang sedang menahan napas.
Bu Euis membuka pintu pagar dengan daster panjang dan sandal jepit. Rambutnya disanggul asal. Ia menatap Elden, lalu Ayu, lalu ransel besar yang dibawa Ayu.
"Ini anak yang mau kos?" tanyanya.
"Namanya Ayu, Bu," jawab Elden. "Saya hanya menghubungkan. Keputusannya tetap di tangan Ayu."
Bu Euis menoleh kepada Ayu. "Bagus. Kalau begitu kamu yang ngomong. Saya tidak suka orang dewasa diwakilkan terus."
Ayu melirik Elden. Ia mendapati pemuda itu mengangguk, seolah baru saja menerima instruksi rapat.
"Saya butuh kamar untuk sementara," kata Ayu.
"Sementara itu berapa lama?"
"Belum tahu."
"Kalau belum tahu, uangnya tetap tahu. Bayar bulanan di muka. Ada uang listrik tambahan kalau pemakaian lewat batas. Kamar mandi di luar. Tamu laki-laki tidak boleh masuk ke area kamar. Jam bertamu sampai pukul sembilan malam. Jangan berisik. Jangan bawa masalah keluarga ke sini."
Kalimat terakhir membuat Ayu diam.
Bu Euis melanjutkan, "Bukan berarti saya tidak mau tahu kalau ada masalah. Maksud saya, jangan mengira rumah kos ini tempat sembunyi tanpa aturan. Kalau kamu tinggal di sini, kamu ikut menjaga tempat ini."
Ayu menatap lorong sempit dengan beberapa pintu kamar berjajar. Ada jemuran pakaian di bawah lampu putih, sandal-sandal berbaris, dan suara seseorang tertawa dari kamar paling ujung. Tempat itu tidak indah. Cat dindingnya mengelupas di dekat tangga. Namun, semuanya terlihat nyata. Bisa dikunci. Bisa dibayar. Bisa menjadi tempat tidur.
"Berapa, Bu?" tanya Ayu.
Bu Euis menyebut angka yang membuat perut Ayu mengencang.
Dua ratus ribu untuk uang muka malam ini, lalu enam ratus ribu untuk sebulan berikutnya. Tidak termasuk listrik dan uang kebersihan.
Ayu membuka dompet. Uang di tangannya terasa lebih berat daripada sebelumnya.
"Saya cuma bisa bayar uang muka sekarang," katanya.
"Besok atau lusa pelunasannya?"
"Saya belum punya enam ratus ribu."
"Kalau begitu kamu belum bisa menyewa sebulan."
Ayu menelan ludah. Ia benci bahwa Bu Euis terdengar masuk akal. Ia benci bahwa dunia tidak peduli apakah ia baru saja kabur dari rumah. Harga kamar tetap harga kamar.
"Saya bisa bayar sebagian dulu?" tanyanya.
Bu Euis menggeleng. "Saya bukan koperasi. Tapi saya bisa kasih waktu sampai tanggal lima belas, kalau kamu punya pekerjaan yang jelas atau ada pemasukan. Kalau tidak, kamarnya saya sewakan ke orang lain."
Tanggal lima belas tinggal kurang dari dua minggu.
Ayu mengeluarkan dua lembar seratus ribu dari dompet. Tangannya sempat berhenti sebelum menyerahkan uang itu.
Elden tidak bergerak. Tidak menawarkan kekurangan. Tidak mengeluarkan dompet. Hanya berdiri di dekat pagar, membiarkan keputusan itu tetap berada di tangan Ayu.
Ayu menyerahkan uang kepada Bu Euis.
"Saya ambil."
Bu Euis menghitung uang tersebut, lalu memberikan kunci dengan gantungan plastik merah.
"Kamar nomor tujuh. Kasurnya ada. Sprei bersih. Kalau kurang, besok beli sendiri."
Ayu menggenggam kunci itu.
Benda kecil tersebut tidak terasa seperti kemenangan. Lebih seperti bukti bahwa ia baru saja membeli waktu empat belas malam.
Kamar nomor tujuh berada di ujung lorong. Ukurannya hanya cukup untuk satu kasur tipis, meja kecil, kipas angin, dan ransel Ayu yang diletakkan di sudut. Jendelanya menghadap gang belakang, tempat suara motor sesekali lewat dan lampu rumah tetangga menyelinap melalui celah tirai.
Ayu meletakkan ranselnya di atas kasur.
Elden berdiri di ambang pintu. "Kamu mau saya bantu membeli kebutuhan dasar?"
"Enggak."
"Kamu belum punya sabun, sikat gigi, atau makanan untuk besok pagi."
"Gue bisa beli sendiri."
"Saya tidak bilang kamu tidak bisa."
"Tapi Kakak berpikir gue gak bisa."
"Saya berpikir kamu belum punya daftar."
Elden membuka aplikasi catatan di ponselnya.
"Sikat gigi. Pasta gigi. Sabun. Sampo. Air minum. Makanan untuk sarapan. Pengisi daya—"
"Gue punya pengisi daya."
"Kabelnya terkelupas."
"Masih bisa dipakai."
"Obat pribadi?"
"Gak perlu."
"Kunci gembok tambahan. Lampu darurat. Nomor penting. Transportasi untuk dua hari ke depan."
Ayu merebut ponsel itu dari tangannya, membaca daftar yang semakin panjang, lalu merobek selembar kertas kecil dari buku catatan Elden yang tadi diselipkan di bawah lengannya. Ia meremasnya dan melemparkannya ke tempat sampah.
"Hei."
"Daftar Kakak terlalu banyak."
"Itu kebutuhan dasar."
"Menurut Kakak."
Ayu mengambil pulpen dari meja kecil. Di halaman kosong buku catatan Elden, ia menulis besar-besar.
1. Makan besok pagi.
2. Cari kerja.
3. Jangan habiskan uang.
4. Jangan pulang karena panik.
5. Beli sabun kalau uangnya cukup.
Elden membaca daftar itu dengan wajah yang sulit ditebak.
"Kamu menaruh ‘jangan pulang karena panik’ di antara makanan dan sabun."
"Itu penting."
"Saya tidak menyangkal."
Ayu menyerahkan buku itu. "Nah. Ini daftar gue."
Elden mengembalikannya. "Daftar ini tidak menyebut cara mendapatkan uang."
"Makanya nomor dua cari kerja."
"Mencari kerja bukan rencana yang cukup spesifik."
"Malam ini, itu rencana paling spesifik yang gue punya."
Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan kafe, Elden tidak langsung menjawab.
Ayu duduk di tepi kasur. Ia baru menyadari bahwa lututnya gemetar. Bukan karena dingin. Karena ia benar-benar telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dibatalkan dengan membanting pintu atau menangis di kamar sendiri.
Ia punya kamar. Ia punya kunci. Ia juga punya dua ratus enam puluh tujuh ribu rupiah yang tersisa setelah membayar uang muka, dan sebagian dari jumlah itu harus dipakai untuk makan sebelum mendapat pekerjaan.
Elden melihat angka di wajahnya, bukan di dompetnya.
"Bu Euis memberi waktu sampai tanggal lima belas," katanya pelan. "Kalau kamu mau, saya bisa mengirim beberapa informasi pekerjaan harian. Bukan membayar. Hanya informasi."
Ayu memandang kunci merah di telapak tangannya.
"Kirim. Tapi jangan pilih-pilih buat gue."
"Baik."
"Dan jangan menghubungi keluarga gue."
"Saya tidak punya nomor mereka."
"Kalau punya pun jangan."
"Saya tidak akan."
Ayu mengangguk, lalu menatap kamar kecil itu. Dindingnya pucat. Kipas anginnya berderit setiap beberapa putaran. Dari luar terdengar Bu Euis memanggil seseorang agar mengecilkan suara televisi.
Tidak ada yang terasa seperti rumah.
Namun, malam itu, untuk pertama kalinya, Ayu bisa menutup pintu dari sisi dalam tanpa ada yang langsung mengetuk dan menyuruhnya menjadi orang lain.
Elden melangkah mundur. "Saya pulang dulu."
"Kak."
Ia berhenti.
Ayu ingin mengucapkan terima kasih, tetapi kata itu terasa terlalu lunak untuk perasaan yang berdesakan di dadanya. Ia juga tidak ingin Elden mengira bantuannya lebih besar daripada yang sebenarnya. Kamar ini bukan pemberian. Uang muka itu uang Ayu. Kunci itu berada di tangannya karena ia membayar.
"Besok kalau ada kerjaan, kirim sebelum jam sembilan," katanya.
Elden mengangguk. "Saya kirim malam ini kalau menemukan."
"Jangan begadang cuma buat nyari kerjaan gue."
"Saya tidak akan begadang."
Ayu menyipitkan mata. "Bohong."
"Saya akan berusaha tidak begadang."
"Nah, itu baru jujur."
Elden pergi setelah mengucapkan selamat malam kepada Bu Euis. Ayu menutup pintu kamarnya dan memutar kunci merah itu dua kali.
Klik.
Suara tersebut kecil, tetapi membuat dadanya terasa penuh. Ia mengeluarkan semua isi dompet dan menyusunnya di atas meja: uang tunai, kartu identitas, kartu pelajar yang belum sempat dibuang, dan secarik foto keluarga yang tadi pagi tanpa sadar masuk ke dalam ranselnya. Ia tidak melihat foto itu lama-lama. Ia membaliknya menghadap meja.
Lalu ia mengambil ponsel. Sisa saldo rekeningnya ternyata seratus delapan puluh tiga ribu rupiah.
Ayu menatap angka itu sampai layar meredup.
Uang tunai dua ratus enam puluh tujuh ribu. Saldo seratus delapan puluh tiga ribu. Setelah uang muka, ia punya waktu sekitar dua minggu untuk mendapatkan pemasukan, atau kamar ini akan kembali menjadi milik orang lain.
Ia membuka buku catatan Elden dan menambahkan satu kalimat di bawah daftar versinya sendiri.
6. Bertahan sampai tanggal lima belas.
Di luar, hujan mulai turun tipis-tipis di atas atap seng. Ayu merebahkan diri di kasur sempit tanpa melepas jaket. Ia masih takut. Masih marah. Masih belum tahu pekerjaan apa yang bisa didapat besok.
Tetapi malam itu, ketika kota terus bergerak tanpa menunggunya, Ayu akhirnya memiliki sesuatu yang bisa ia pertahankan.
Bukan rumah. Belum.
Hanya sebuah kamar kecil, kunci merah, dan empat belas malam untuk membuktikan bahwa kebebasan yang ia pilih tidak berhenti sebagai teriakan di depan pintu.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari PADMARINI: Diantara Rumah dan Kebebasan.