meltice
Meltice: Satu Scoop yang Tidak Pernah Kamu Pesan
Mulai membaca
Setiap orang punya cara masing-masing untuk bertahan ketika hidup terasa sedikit terlalu berat. Ada yang berlari sampai kakinya pegal. Ada yang tidur berjam-jam. Ada yang menelepon seseorang. Ada pula yang memilih diam dan berharap perasaannya ikut menghilang kalau tidak diberi nama.
Sekar memilih makanan manis. Lebih tepatnya, es krim coklat. Bagi sebagian orang, es krim mungkin hanya makanan penutup dengan terlalu banyak gula yang akan membuat dokter mengernyitkan dahi kalau dikonsumsi terlalu sering. Tapi bagi Sekar, es krim selalu terasa seperti mesin waktu.
Satu sendok masuk ke mulutnya, dinginnya menyentuh langit-langit mulut, lalu perlahan berubah menjadi rasa manis yang tertinggal di tenggorokan setelah ia menelannya. Dan entah bagaimana, setiap kali itu terjadi, Sekar kembali menjadi anak berusia delapan tahun.
Saat kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Setelah itu, hidupnya berpindah ke rumah nenek. Rumah putih di Jalan Nawawi Bandung dengan genteng merah tua, halaman yang selalu teduh, dapur yang hampir tidak pernah sepi, dan suara nenek yang memanggilnya dari dalam rumah.
Nenek selalu hadir di setiap momen kehidupan Sekar. Menyiapkan sarapan sebelum Sekar sekolah. Menunggu di ruang tamu kalau Sekar pulang terlambat. Membawakan obat ketika ia sakit. Dan pada malam-malam ketika Sekar tiba-tiba menangis karena merindukan kedua orang tuanya, nenek tidak banyak bertanya. Nenek hanya pergi ke dapur, membuka freezer, lalu kembali membawa semangkuk es krim cokelat.
“Makan es krim dulu nih.”
Sekar masih ingat bagaimana nenek duduk di sebelahnya. Membiarkannya makan sambil sesekali mengusap punggungnya. Mungkin itu sebabnya Sekar selalu menyukai es krim. Bagi orang lain, es krim hanyalah makanan penutup.
Bagi Sekar, ada sesuatu yang aneh tentang es krim baginya. Ia datang dengan dingin, tetapi selalu meninggalkan sesuatu yang hangat. Ia menyimpan ingatan yang tentang rasa aman. Tentang menjadi anak kecil yang kehilangan hampir seluruh dunianya, lalu perlahan menemukan dunia baru di sebuah rumah bersama neneknya. Rasa manisnya juga membuat Sekar merasa lebih baik. Mungkin kebahagiaan juga seperti itu, tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang ia hanya muncul dari hal kecil yang membuat kita berhenti sebentar. Membiarkan sesuatu meleleh perlahan di lidah, lalu mengingatkan bahwa bahkan pada hari yang buruk, masih ada sedikit rasa manis yang bisa ditemukan.
Pagi itu Sekar baru saja menyelesaikan rutinitasnya sebelum membuka Meltice Cafe. Ia berdiri di balik coffee bar dengan apron hijau tua terikat di pinggang. Mesin espresso masih mendesis ketika ia mencicipi hasil kalibrasi ketiganya pagi itu.
Sekar mengernyit.
“Masih asem.”
Dari sisi lain bar, seorang laki-laki mengangkat wajah. Rambutnya yang gondrong diikat asal ke belakang. Beberapa helai jatuh di dekat telinganya. Dengan kaus hitam dan apron cokelat tua, badannya terlihat terlalu besar untuk berdiri di balik coffee bar yang sempit.
Namanya Rakha. Lelaki dua puluh empat tahun itu adalah barista Meltice sejak tiga bulan pertama kafe dibuka. Rakha mengambil cangkir dari tangan Sekar dan mencicipinya.
“Menurut saya sih udah enak.”
“Kemarin kamu juga bilang begitu.”
“Kemarin memang enak.”
“Terus hari ini?”
Rakha mengangkat bahu.
“Enak juga.”
Sekar memandangnya beberapa detik.
“Standar hidup kamu rendah banget, ya.”
“Makanya bahagia.”
Sekar mendengus kecil lalu memutar grinder setengah angka lebih halus. Rakha tertawa. Di antara orang-orang yang bekerja di Meltice, mungkin Rakha adalah orang yang paling jarang terlihat panik. Mesin kopi rusak, listrik mati, pesanan menumpuk, atau susu oat habis ketika ada lima pelanggan yang meminta oat latte wajahnya hampir selalu sama. Kadang Sekar iri.
Ia sendiri pernah menghabiskan hampir sepuluh tahun di agency digital marketing, lingkungan kerja yang berhasil melatih tubuhnya bereaksi terhadap bunyi notifikasi seperti alarm kebakaran. Karena itu ketika ponselnya yang tergeletak di dekat timbangan kopi bergetar pagi itu, refleksnya masih sama.
Matanya langsung melihat layar. Satu pesan WhatsApp masuk. Nomornya tidak ia simpan. Namun foto profilnya cukup membuat tangan Sekar berhenti. Beberapa detik ia hanya berdiri. Lalu membuka pesan itu. Tidak sampai satu menit kemudian, Rakha melihat Sekar membuka freezer gelato. Satu scoop. Dua scoop. Cokelat. Rakha melirik jam dinding. Pukul delapan lewat lima.
“Pagi-pagi banget bos?”
Sekar menutup freezer.
“Jangan komentar.”
“Saya belum komentar.”
“Muka kamu komentar.”
Rakha mengangkat kedua tangannya.
“Oke.”
Sekar membawa cup itu keluar. Ia masih mengenakan kaus putih polos di balik apron navy yang talinya terikat di pinggang. Tidak ada makeup berlebihan di wajahnya pagi itu, hanya sedikit lip tint yang sudah hampir hilang dan alis yang dirapikan seadanya. Wajahnya biasanya terlihat terbuka dan mudah dibaca, tapi pagi itu garis rahangnya tampak sedikit lebih kaku.
Masih ada hampir satu jam sebelum Meltice dibuka. Ia memilih duduk di halaman depan. Halaman itu adalah bagian rumah yang hampir tidak ia ubah ketika memutuskan mengubah rumah neneknya menjadi kafe.
Kerikil putih keabu-abuan memenuhi sebagian tanah. Jalur batu pijakan memotong area hijau secara sederhana. Beberapa tanaman milik nenek masih berada di tempat yang sama sejak Sekar kecil. Sekar hanya menambahkan beberapa meja kecil, kursi besi, dan bangku kayu panjang yang menempel di sepanjang dinding.
Ia sengaja tidak membuatnya terlalu ramai. Nenek selalu bilang rumah membutuhkan ruang untuk bernapas. Sekar menyendok gelato cokelatnya. Manis. Dingin. Tapi pagi itu rasa tersebut tidak bekerja secepat biasanya.
Ia bersandar pada dinding, mengeluarkan ponsel dari saku apron, lalu membaca pesan itu sekali lagi.
Kepada Yth. Ibu Sekar Arum,
kami mengundang Saudari untuk menghadiri acara pernikahan kami...
Di bawahnya terdapat tautan undangan digital. Nama Randi berada di sebelah nama perempuan yang belum pernah Sekar dengar sebelumnya. Sekar menatapnya cukup lama. Aneh. Selama setahun terakhir ia hampir tidak pernah memikirkan Randi. Setidaknya begitu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Mereka sudah bersama hampir lima tahun ketika Nenek meninggal. Saat itu Sekar masih bekerja sebagai Head di sebuah digital marketing agency di Jakarta. Hari-harinya dipenuhi pitch deck, campaign, revisi klien, dan meeting yang sering kali bisa menjadi email tapi tetap dipaksakan menjadi meeting.
Sedangkan Randi sedang berada di fase paling sibuk dalam hidupnya. Startup yang dibangunnya sejak kuliah baru mendapatkan pendanaan berikutnya. Namanya mulai muncul di artikel bisnis. Jadwalnya penuh investor meeting, town hall, wawancara, dan perjalanan Jakarta-Singapura yang kadang baru ia pesan beberapa jam sebelum keberangkatan.
Randi bukan tipe CEO yang setiap hari terlihat seperti baru keluar dari ruang rapat. Ia lebih sering datang dengan kaos polos berwarna gelap, celana panjang, sneakers, dan jam tangan yang hampir tidak pernah ia lepas. Tubuhnya tinggi dan cukup berisi, bahunya lebar, wajahnya tegas dengan rahang yang membuatnya terlihat sedikit galak ketika sedang diam.
Rambutnya selalu terlihat seperti sudah dirapikan, tapi tidak terlalu rapi. Kadang ada sedikit bayangan janggut yang tumbuh di dagu ketika ia sedang terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal kecil. Orang sering mengira ia pendiam ketika pertama bertemu. Padahal Randi hanya tidak suka berbicara kalau merasa tidak ada yang perlu dikatakan. Sekar dulu menyukai itu. Ia menyukai bagaimana Randi tidak merasa harus mengisi semua keheningan. Ia juga menyukai bahwa ketika Randi tertawa, seluruh kesan serius pada wajahnya bisa hilang begitu saja.
Mereka adalah pasangan yang, dari luar, terlihat sangat serasi dan sedang menuju kehidupan yang sangat baik. Karier naik. Penghasilan stabil. Lingkaran pertemanan yang sama-sama ambisius. Pernikahan mungkin dua atau tiga tahun lagi. Anak setelah itu. Mereka pernah membicarakan masa depan sambil makan ramen pukul sebelas malam setelah sama-sama pulang kerja. Seolah hidup adalah kalender besar yang tinggal diberi tanda centang.
Lalu tiba tiba nenek meninggal. Sekar merasa seperti kehilangan orang tuanya untuk kedua kali. Kabar itu datang ketika ia sedang berada di Jakarta. Hari itu seharusnya biasa saja. Ada presentasi pagi, dua meeting setelah makan siang, lalu revisi materi campaign yang harus selesai sebelum malam. Sampai sebuah telepon masuk.
Dan dalam beberapa menit, semua hal yang satu jam sebelumnya terasa mendesak mendadak menjadi tidak penting. Sekar pulang ke Bandung hari itu juga. Ketika ia tiba, rumah itu penuh orang.
Ada sandal berserakan di depan pintu. Suara orang mengaji terdengar dari ruang tengah. Beberapa tetangga memeluknya. Ada yang mengatakan agar ia sabar. Ada yang mengatakan neneknya sudah tenang. Sekar mengangguk kepada semuanya. Tapi ia hampir tidak mendengar apa-apa. Ia hanya terus melihat ke arah kursi tempat nenek biasanya duduk. Kosong.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan kedua orang tuanya, Sekar kembali merasakan perasaan yang sama. Perasaan seperti tidak memiliki tempat untuk pulang.
Setelah pemakaman selesai dan satu per satu orang meninggalkan rumah, Sekar berdiri sendirian di dapur. Di atas meja masih ada wadah gula milik nenek. Di dekat kompor tergantung celemek bermotif bunga. Di kulkas ada beberapa magnet yang dibeli Sekar setiap kali bepergian. Semua benda masih berada di tempatnya. Hanya pemilik rumah itu yang sudah tidak ada.
Sekar membuka freezer. Entah apa yang ia cari. Di dalamnya ada satu wadah es krim cokelat yang tinggal separuh. Sekar mengambilnya, duduk di lantai dapur, lalu makan langsung dari wadah itu.
Satu sendok. Dua sendok. Tiga. Kali itu es krim tidak membuatnya merasa lebih baik. Sekar menangis sampai bahunya sakit. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia menangis seperti anak delapan tahun yang baru diberi tahu bahwa orang yang ia sayangi tidak akan pulang lagi.
Rumah itu kemudian diwariskan kepadanya. Semua orang mengatakan ia beruntung. Nilai tanah di daerah itu terus naik. Rumahnya cukup besar. Lokasinya tidak buruk. Randi, pacarnya menyarankan agar rumah tersebut dijual atau disewakan. Secara logika, itu memang keputusan yang paling masuk akal. Sekar bahkan sempat setuju.
Namun setiap kali agen properti datang dan mulai menghitung luas tanah, akses jalan, harga per meter, dan potensi renovasi, Sekar merasa ada sesuatu yang tidak beres. Rumah itu memang aset.
Tapi bagi Sekar, rumah itu juga satu-satunya tempat yang masih menyimpan kehidupan orang-orang yang pernah menjadi keluarganya. Di sudut ruang tamu, ayahnya pernah mengajarinya bermain kartu. Di dapur, ibunya pernah membuat pancake yang gosong di satu sisi. Di teras, nenek menyisir rambutnya setiap Minggu pagi. Dan di halaman depan, Sekar pernah duduk sambil makan es krim ketika dunianya pertama kali runtuh. Menjual rumah itu terasa seperti menghapus satu-satunya bukti bahwa kehidupan tersebut pernah benar-benar ada.
Karena itu hampir setahun Sekar tidak melakukan apa-apa. Rumah tersebut dibiarkan kosong. Sekar tetap bekerja di Jakarta. Sesekali pulang ke Bandung. Membuka jendela. Menyalakan lampu. Duduk di halaman. Lalu kembali ke Jakarta.
Sampai suatu malam, setelah presentasi kepada salah satu klien terbesar mereka, Sekar pulang pukul satu pagi. Ia duduk di lantai apartemennya sambil membuka laptop untuk mengerjakan revisi yang harus dikirim sebelum pukul tujuh. Untuk pertama kalinya muncul sebuah pertanyaan yang sangat sederhana.
Kalau rumah itu tidak ingin aku jual, sebenarnya aku ingin melakukan apa dengannya?
Saat itu jawabannya tidak datang sebagai sebuah rencana bisnis. Melainkan dari satu ingatan sederhana. Rumah ini selalu menjadi tempat orang pulang. Mungkin Sekar tidak bisa membuat nenek kembali. Mungkin ia juga tidak bisa mengembalikan kedua orang tuanya. Tapi ia bisa membuat rumah itu tetap hidup.
Ia bisa membuat orang datang. Duduk. Makan. Minum. Bercerita. Tertawa. Menghabiskan waktu lebih lama dari yang mereka rencanakan. Dan mungkin, untuk beberapa orang, rumah itu bisa memberikan sedikit rasa nyaman seperti yang dulu diberikan kepadanya.
Setelah berpikir seperti itu Sekar tidak resign keesokan harinya. Hidup jarang berubah secepat itu. Butuh beberapa bulan sampai akhirnya ia benar-benar mengajukan surat resign. Ketika akhirnya Sekar memberitahu Randi bahwa ia ingin kembali ke Bandung, mereka sedang duduk di kafe kecil di lantai dasar apartemennya. Tempat itu hampir selalu ramai setiap malam.
Sebagian besar pengunjung adalah penghuni apartemen yang turun dengan sandal atau pakaian olahraga hanya untuk membeli kopi sebelum kembali ke unit masing-masing. Sekar dan Randi duduk di pojok dekat jendela.
Di luar, lampu kendaraan di jalan utama terlihat seperti garis-garis merah dan putih yang bergerak tanpa henti. Jam sudah hampir sembilan malam. Sekar baru pulang dari kantor. Laptop masih berada di tasnya. Randi datang langsung dari kantornya dengan kaus hitam dan jaket tipis yang ia letakkan di sandaran kursi.
Ada dua gelas di antara mereka. Americano tanpa gula milik Randi. Iced latte milik Sekar yang esnya sudah hampir seluruhnya mencair karena terlalu lama tidak disentuh.
“Aku mau resign,” kata Sekar.
Randi yang sedang melihat sesuatu di ponselnya langsung mengangkat wajah. Ia tidak langsung menjawab.
“Resign dari agency?”
Sekar hampir tertawa.
“Ya masa resign dari apartemen.”
Randi tidak tertawa. Sekar tahu saat itu ia benar-benar sedang mendengarkan.
“Kapan?”
“Belum submit. Tapi aku udah ngomong sama atasanku.”
Randi meletakkan ponselnya terbalik di meja.
“Oke.”
Tidak ada reaksi besar. Tidak ada larangan. Namun itu justru membuat Sekar semakin gugup.
“Aku mau balik Bandung.”
Kali ini alis Randi sedikit berkerut.
“Berapa lama?”
Sekar melihat jalan di luar jendela.
“Nggak tahu.”
“Maksudnya?”
“Aku kepikiran tinggal di sana.”
Randi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Di rumah Nenek?”
Sekar mengangguk.
“Aku mau buka kafe.”
Hening. Mesin grinder dari balik bar terdengar tiba - tiba terasa begitu nyaring. Seseorang di meja sebelah sedang tertawa. Pelayan berjalan melewati mereka membawa dua piring pasta. Kehidupan di sekitar mereka terus berjalan seolah Sekar baru saja tidak mengatakan sesuatu yang mungkin akan mengubah arah hidupnya.
Randi menatapnya.
“Kamu serius?”
Sekar mengangguk.
“Kamu mau ninggalin posisi head buat buka kafe?”
“Bukan cuma buka kafe.”
“Terus?”
Sekar terdiam. Ia sudah memikirkan jawaban pertanyaan itu berkali-kali. Namun ketika harus mengatakannya dengan suara keras, semuanya terdengar jauh lebih abstrak.
“Aku capek.”
Randi menunggu.
“Aku cuma… nggak tahu lagi aku ngelakuin semua ini buat apa.” lanjut Sekar.
“Kamu burnout?”
“Mungkin.”
“Kalau burnout, ambil cuti.”
“Bukan cuma itu.”
Randi mengusap rahangnya pelan. Kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika sedang berpikir. Sekar mengenalnya cukup lama untuk tahu bahwa setelah ini akan muncul pertanyaan-pertanyaan. Dan benar saja.
“Rumahnya udah kamu cek kondisi terakhir?”
“Udah.”
“Renovasinya berapa?”
“Belum tahu pasti.”
“Terus business plan?”
Sekar menatapnya.
“Belum.”
“Revenue model-nya apa?”
Sekar sempat tertawa kecil. Bukan karena lucu. Karena ia tidak percaya percakapan mereka sudah sampai di sini.
“Ran.”
“Aku nanya serius.”
“Aku juga serius.”
“Kamu udah hitung BEP?”
“Belum.”
“Traffic di daerah situ gimana?”
“Belum tahu.”
“Target market?”
“Randi.”
Randi bersandar lagi.
“Aku cuma nggak ngerti.”
“Nggak ngerti apa?”
“Kenapa kamu harus ninggalin semuanya untuk sesuatu yang bahkan belum kamu hitung.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka. Sekar menatap es di gelasnya. Sudah hampir sepenuhnya mencair.
“Kamu pikir aku bodoh?”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi kedengarannya begitu.”
“Sekar.”
Randi menghela napas.
“Aku cuma realistis.”
“Tentu.”
“Apa maksudnya?”
“Kamu selalu realistis.”
Randi mengerutkan kening. Sekar tahu ia mulai defensif. Tapi Sekar juga sudah terlalu lelah untuk memilih kata-kata yang aman.
“Kadang aku cerita sesuatu, terus yang keluar dari kamu selalu angka. Risiko. Untung-rugi. Proyeksi.”
“Karena itu penting.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Tapi nggak semua keputusan hidup bisa masuk akal di Excel, Ran.”
Randi terdiam. Untuk beberapa detik mereka saling menatap. Kemudian Randi mengambil Americano-nya, tapi tidak meminumnya.
“Aku takut kamu nyesel.”
Nada suaranya kali ini lebih pelan. Tidak lagi terdengar seperti CEO yang sedang menilai proposal. Hanya seorang laki-laki yang takut kehilangan sesuatu. Sekar menatapnya. Randi melanjutkan.
“Kamu udah kerja hampir sepuluh tahun buat sampai posisi sekarang.”
“Aku tahu.”
“Orang berlomba-lomba pengen ada di posisi kamu.”
“Aku juga tahu.”
“Terus kamu tinggalin begitu aja?”
Sekar tersenyum kecil. Ada lelah di dalamnya.
“Justru mungkin karena aku udah sampai sini, aku akhirnya bisa lihat kalau ternyata aku nggak mau terus naik tangga yang sama.”
Randi menunduk. Tangannya memutar gelas kopi perlahan.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Meltice: Satu Scoop yang Tidak Pernah Kamu Pesan.