CeritaGW
Buku / Bab
Bab 12664 kata

Bab 12

T

Tikaa

30 hari mengejar cinta jeanne

Mulai membaca

Malam semakin larut, dan udara di area luar mulai terasa menusuk. Jeanne memesan satu gelas Japanese whisky lagi. Fumiya sempat menyarankan minuman lain yang lebih ringan, tetapi Jeanne tetap pada pilihannya. Ia tidak ingin percakapan malam itu cepat berakhir.

Ponsel Jeanne yang tergeletak di samping piring tiba-tiba menyala. Nama Steve muncul di layar.

Fumiya sempat melirik, lalu segera mengalihkan pandangan.

Sedangkan Jeanne tidak ingin ponsel itu terus menerus menyala, ia kemudian meminta izin untuk menerima panggilan itu. Fumiya mengangguk.

"Hai,” sapa Jeanne setelah sedikit menjauh dari meja.

"Hai. Lagi di mana?” tanya Steve.

"Lagi makan.”

"Sama siapa?”

"Teman.”

"Teman siapa?”

"Iya, teman. Kenapa?”

Steve terus bertanya. Lima menit pertama mereka habiskan dengan percakapan yang terasa berputar-putar. Jeanne menarik napas panjang. 

"Sebenarnya kamu menghubungiku untuk apa, Steve?”

"Jeanne come on, kamu sama sekali gak ngabarin aku.” ucap steve dengan nada meninggi.

"Sekarang kamu sudah tau kabar aku kan? Aku baik- baik saja. Aku sudah di jepang. Dan aku sedang makan.” jawab jeanne tidak kalah tingginya.

"Aku berencana ke Jepang. Ada event yang harus kuhadiri. Kamu tinggal di mana selama di sana?”

Jeanne terdiam. Ia mengira salah dengar, lalu meminta Steve mengulanginya. Jawabannya tetap sama: ia akan datang ke Jepang.

"Aku di Shibuya,” kata Jeanne akhirnya.

"Oke. Nanti aku kabari tempatku menginap.”

"Oke.”

Panggilan terputus. Jeanne menatap layar ponselnya beberapa saat. Steve selalu bisa datang dan pergi sesuka hati, lalu kembali seakan tak ada persoalan di antara mereka.

Saat Jeanne menghampiri meja, Fumiya sedang melihat ponselnya.

"Maaf, lama,” katanya sambil duduk.

"No worries.” Fumiya meletakkan ponselnya. "Apa itu kekasihmu?”

"Ya. Dia bilang akan datang ke Jepang untuk sebuah event.” Jeanne meraih gelasnya. "Kalau kau? Apa kau punya kekasih?”

Fumiya tersenyum. Ia menghabiskan sisa minuman di gelasnya sebelum menjawab.

"Tidak.”

Jeanne mengernyit. Sulit membayangkan lelaki semenarik Fumiya tidak punya kekasih. Namun, ia segera sadar mungkin orang-orang juga pernah berpikir demikian tentang dirinya, pada masa ketika ia masih sendiri.

"Kau tidak percaya?” tanya Fumiya.

"Entahlah.” Jeanne tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, aku sangat kagum dengan hasil foto- foto mu. Kaito juga banyak bercerita tentang dirimu. Kalian nampak begitu dekat.”

Fumiya bersandar di kursinya. "Kaito itu sahabat kakak sepupuku. Dulu orang tuaku sibuk bekerja, jadi aku sering tinggal bersama paman dan bibiku. Mereka punya tiga anak. Rumahnya selalu ramai, dan Kaito sering datang ke sana.”

"Jadi kalian sudah saling kenal sejak kecil?”

Fumiya mengangguk. "Sekarang aku membantu apa saja yang kubisa di Cacao. Fotografi, konten, kadang modeling juga. Menyenangkan karena aku suka berkreasi. Tapi itu lebih seperti hobi, bukan pekerjaan yang ingin ditekuni selamanya.”

"Lalu kau ingin menjadi apa?”

"Aku sedang kuliah kedokteran. Sudah semester akhir.”

"Wow.” Jeanne menatapnya, terkejut. "Aku sama sekali tidak menyangka. Kau punya banyak sekali kemampuan.”

Fumiya menunduk sambil tersenyum malu. Melihat reaksinya, Jeanne teringat bagaimana ia bersikap saat Kaito memujinya di hari pertama mereka bertemu.

Whisky mulai membuat kepala Jeanne terasa ringan. Ia menyandarkan tubuh ke kursi dan mendongak. Dari tempat duduknya, langit malam terbentang di atas gedung-gedung. Hanya sedikit bintang yang terlihat di antara cahaya kota, tetapi Jeanne tetap mencarinya.

Semasa kecil, ia punya kebiasaan memandangi langit setiap kali merindukan Papá. Ia membayangkan Papá sedang melihat langit yang sama, di tempat yang jauh, dan entah bagaimana akan tahu bahwa Jeanne sedang memikirkannya.

Ketika ia menundukkan pandangan, Fumiya sudah beranjak menuju kasir. Jeanne mengikutinya dengan mata. Cara lelaki itu berjalan, bahunya yang tegap, juga sikap tenangnya sejak tadi membuat Jeanne sadar betapa mudahnya merasa nyaman berada di dekat Fumiya.

Jeanne memejamkan mata sebentar. Saat membukanya lagi, wajah Fumiya sudah dekat.

"Kau baik-baik saja?”

Jeanne buru-buru menegakkan tubuh. Ada rasa panas merambat ke wajahnya, dan ia berharap Fumiya mengira itu hanya akibat whisky.

"Aku baik-baik saja.”

Namun, ketika berdiri, langkahnya goyah. Fumiya segera menawarkan lengan, dan Jeanne menerimanya. Ia memutuskan memanggil taksi karena Jeanne tampaknya tidak sanggup berjalan jauh menuju stasiun.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Jeanne lebih banyak diam. Kepalanya terasa berat. Samar-samar ia ingat sempat bersandar di bahu Fumiya. Ia hendak memperbaiki posisi, tetapi Fumiya justru bergerak sedikit agar Jeanne bisa bersandar dengan lebih nyaman.

Bab selanjutnya

13 - Bab 13

Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 12 / 24
30 hari mengejar cinta jeanne
11

Bab 11

725 kata / Tersedia

12

Bab 12

664 kata / Sedang dibaca

13

Bab 13

496 kata / Tersedia